Refleksi Ramadhan

Ramadhan memang sudah berlalu lima hari yang lalu, jadi rasanya agak telat ya kalau baru buat tulisan ini sekarang hehe. Tapi, nggak apa-apa lah ya daripada nggak sama sekali.

Hampir setiap akhir ramadhan, bawaannya pasti kecewa karena sudah ditinggal pergi oleh bulan suci yang diberkahi banyak kemuliaan ini. Selain itu, pasti ngerasa kalo amalan di bulan ramadhan itu masih ada aja yang kurang, atau targetan yang ga terpenuhi, dan lain-lain. Tapi, dari sekian ramadhan yang (alhamdulillah) sudah saya lalui, baru ramadhan tahun ini yang paling membuat saya kecewa.

Kenapa? Karena ini pertama kalinya saya ‘kedatangan tamu’ tepat di 10 akhir ramadhan. Itu artinya, saya nggak bisa itikaf di masjid. Padahal ibu saya yang tadinya tidak memberi lampu hijau bagi saya untuk itikaf di masjid, sekarang sudah memperbolehkan saya itikaf di masjid (malah bukan hanya sekedar ngebolehin, tapi emang disuruh). Gimana saya nggak kecewa?

Jujur di 10 hari terakhir di ramadhan kemarin rasanya saya sedih, sekaligus bingung harus ngapain, karena kan saya sama sekali ga bisa ikut shaum dan shalat. Jadi paling Cuma bisa tilawah atau baca-baca kisah shahabiyah.

Terus terang saya nggak tahu hukumnya kalau wanita yang lagi ‘kedatangan tamu’ kaya saya kemaren itu masih dibolehin nggak sih sebenernya ikutan itikaf di masjid? (kalau ada yang tahu, monggo dikomen aja ya hehe) Jadi ya kemaren karena saya galau, akhirnya yaa di rumah aja selama 10 hari terakhir.

Tapi intinya, keberhasilan kita shaum dan beramal di bulan ramadhan itu kan bukan hanya dilihat di bulan ramadhannya saja, tapi justru dilihat dari seberapa banyakkah perubahan yang kita alami setelah ramadhan. Kalau yang saya denger dari tausiyah di radio MQ FM (lupa waktu itu ustadz siapa yang ngasih tausiyahnya), sebagai manusia kita harus melaksanakan shaum ramadhan seperti shaumnya seekor ulat yang tidak disukai orang menjadi kupu-kupu cantik yang dikagumi banyak orang, bukan hanya sekedar shaum seperti seekor ular yang pada akhirnya hanya berganti kulit saja, dan tetap menjadi ular yang ditakuti banyak orang.

Semoga mulai bulan syawal ini hingga ke depannya, kita semua bisa terus mempertahankan amalan-amalan kita di bulan ramadhan kemarin ya, dan semoga kita masih bisa dipertemukan dengan bulan ramadhan berikutnya, aamiin…

Taqabalallahu minna waminkum semuanya, mohon maaf lahir dan batin 🙂

Maaf ya saya jadi curhat huehuheuhue

Ps. Foto di atas saya ambil waktu subuh-subuh hari ke-27 shaum (kalau saya ga salah inget). Adakah yang melihat fenomena serupa?