Dua Sisi

Based on true story

Awalnya, aku hanya tahu namamu, tanpa tahu rupamu seperti apa. Dan setelah aku bertemu denganmu, aku merasa seperti ada sesuatu yang menarikku untuk dekat denganmu.

“Oh.. kamu Cahya ya?”
Kau berkata dengan wajah sumringah padanya yang menatapmu tanda tanya.

Hari ini adalah hari pertama kalian bertemu, di masa pengenalan kampus kalian. Jadi wajar saja dia sempat kaget ketika kau menyapamu begitu.

Kau melanjutkan, masih dengan nada riang, “dari kemarin aku cuma tahu nama kalian aja, nggak tahu muka. Makanya aku seneng banget hari ini bisa kenalan sama kalian semua,” kau pun mengulurkan tangan padanya, “oh, iya, namaku Sinar, orang yang kemarin ngehubungin kamu, salam kenal ya”

Dia sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya membalas uluran tanganmu. Barangkali dia baru sadar kalau kaulah orang yang kemarin tiba-tiba menghubunginya untuk memberitahu kalau kalian berada dalam satu kelompok dalam masa pengenalan kampus ini.

“Salam kenal juga ya, Sinar”

Kau tertegun ketika mendengar jawabannya. Entah mengapa ketika kau melihat ia tersenyum dan membuat matanya yang sudah sipit menjadi semakin tak terlihat lagi, kau seolah terperangkap daam pesonanya hingga kau tak mampu berpaling.

Dan entah bagaimana, sejak itu kau tahu bahwa hari-harimu akan penuh warna bersamanya.

Seperti namamu, kau selalu memberikan energi positif dengan kehadiranmu. Dan aku, entah sejak kapan, selalu nyaman bila bersamamu.

“Cahya!”

Dia memanggilmu, dan kau pun balas memanggilnya, “hai Sinar!”
Dia sedikit tersenyum mendengar aksenmu yang tak biasa, kemudian melanjutkan, “udah lama ga ketemu ya?”
Kau mengangguk dan langsung menyahut, “iya ya, gimana kuliahnya?”

Dan sesaat kemudian kau kaget dengan pertanyaan yang kau lontarkan barusan, seolah tak percaya bahwa kaulah yang berbicara tadi.
Kau sadar, kau adalah seorang introvert –sangat introvert bahkan. Biasanya, meskipun kau sedang seorang diri dan tiba-tiba bertemu teman pun, kau hanya akan menyapa sekenanya atau bahkan berusaha menghindar.

Lalu, kali ini kenapa?

Kau seperti setengah sadar saat dia duduk di sampingmu dan bercerita dengan ekspresif. Dan kau terus mendengarkan dengan minat, tanpa bosan, bahkan sesekali kau menimpali ceritanya, sesuatu yang baru pertama kali ini kau lakukan barangkali.

Kau pun sadar, dialah yang berhasil membuatmu seperti ini. Dia yang akan selalu membuatmu merasa nyaman bila ada di dekatnya.

 

 Awalnya aku dan kamu hanya sebatas kenal saja. Tapi kali ini, kita sudah menjadi “teman”, atau mungkin lebih dari itu.

Senyummu langsung mengembang begitu tahu dia mengikuti organisasi yang sama denganmu. Itu artinya kau dan dia akan lebih sering bertemu.

Semua orang sempat heran melihat kalian yang begitu akrab satu sama lain. Banyak yang bilang, hanya kau yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa lepas seperti ini.

“Cahya, kata anak-anak kamu cuma bisa senyum sama ketawa kalo lagi sama aku, itu beneran ?”
Dia menurunkan pandangannya, malu-malu, “kalo sama yang lain kan aku belum deket. Aku cuma bisa gini ya sama kamu, Sinar, nggak bisa sama yang lain”

Dan kau pun senang mendengar jawabannya.

Aku selalu senang bila melihat wajahmu yang selalu tersenyum, suara tawamu yang renyah, sikapmu, dan semua yang ada pada dirimu. Rasanya, aku tak ingin meninggalkanmu.

Biasanya, kau selalu cuek bila kau berhalangan hadir di suatu kegiatan organisasi. Atau bahkan, kau sering mengarang cerita kalau kau harus mengerjakan banyak tugas demi mendapatkan tiket izin untuk tak hadir di acara itu.

Ya, kau memang tidak terlalu suka berada di tempat ramai. Itulah alasan kau selalu berusaha menghindar dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang banyak seperti ini.

Tapi kali ini lain.

Kali ini kau selalu berusaha hadir hampir di setiap acara organisasi. Bahkan tak tanggung-tanggung, kau selalu berhasil bertahan hingga acara selesai. Tentunya hal ini membuat banyak teman lain terheran-heran padamu.

Ya, semua itu karena kau selalu berusaha datang untuk bertemu dia. Berusaha datang untuk menghabiskan waktu bersamanya, berbincang dengannya, berada di sampingnya. Karena kau tahu, bersamanya, kau tak akan lagi merasa sendiri, tak akan lagi merasa kesepian seperti dulu.

Sesederhana itu.

Aku tak pernah tahu ikatan apa yang terjalin di antara kita. Aku, kamu, saling suka, dan itulah segalanya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini kau sering memikirkannya. Padahal kau tahu sifatnya yang cenderung cuek dan acuh.

Kadang kau merindukannya, padahal kalian baru saja bertemu semalam.

Dan entah kenapa, hatimu selalu berseru gembira jika kalian akan bertemu.

Termasuk pada hari itu.

Kau ingin memastikan dia akan datang ke acara organisasi kalian maka kau menyempatkan diri untuk mengiriminya pesan, “hari ini kamu ikut kan?”

Dan beberapa menit kemudian, seulas senyuman terbentuk di bibir mungilmu saat melihat balasannya.

“Iya Sinar, jangan khawatir”

Aku selalu ingin bersamamu, meskipun logikaku mengatakan itu takkan pernah terjadi

Kau masih ingat kejadian hari itu. Ya, kejadian itu.

Hari itu, kau, dia, dan teman-teman kalian yang lain hendak berfoto bersama. Tentu saja kau berusaha untuk berada di sampingnya, dan ya, kau tahu pasti kalau dia akan menyadarinya.

Awalnya, tidak ada yang aneh. Kalian berfoto seperti biasa saja, sambil mengikuti arahan sang fotografer.

Dan kejadian itu pun terjadi.

“Ya semuanya berangkulan!” seru fotografer.

Kau hampir saja akan merangkulnya jika kau tak melihat jilbab yang selalu menutupi kepalanya.

Ah, iya, di agamamu laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan ya? ” batinmu pilu, sambil menahan tanganmu untuk tak merengkuh bahunya dalam dekapan.

“Rangkul! Rangkul!” samar-samar kau dengar suara itu dari belakang, dan entah kenapa hatimu langsung terasa perih untuk menerima kenyataan.

Kau pun berkata, “aku nggak usah rangkul kamu ya”
Dia menjawab, berbisik, nyaris tak terdengar, “iya nggak usah”

Kau tahu, detik itu kau merasa lemah tak berdaya. Kau kalah mental dari semua fakta ini.

Fakta bahwa kalian takkan pernah bisa bersama, meskipun kau sangat menginginkannya.

Tiba-tiba saja kau menghindariku, seolah berusaha untuk menghilang dari hadapanku tanpa jejak apa pun

Kau sadar dia mulai berubah

Biasanya, jika kalian sedang bersama maka kalian pun akan pulang bersama. Atau paling tidak, jika salah satu dari kalian ada yang pergi lebih dulu pasti kalian akan saling melempar senyum perpisahan.

Tapi ini lain.

Tiba-tiba saja dia menghilang darimu begitu saja, dan kau langsung sibuk mencarinya.
Kau tahu, dia tipe orang yang sedikit sulit mencari teman, jadi wajar kalau hanya kau yang panik akan keberadaannya.

Dan dia pun muncul, dengan tampang tak bersalah, masih memasang senyumnya yang sempurna di wajah putihnya itu.

Kau mengerang seraya mendekatinya, “kau ke mana sih? Tiba-tiba hilang begitu saja?”

Dia hanya berbisik, “maaf ya Sinar”

Detik itu kau kecewa dengan jawabannya, mengapa dia tak berjanji untuk tak meninggalkanmu lagi?

Batasan keyakinan. Hanya karena satu hal ini saja aku terpaksa menjauh darimu. Seharusnya kau mengerti, bukan?

“Kenapa kau tak membalas pesanku tadi?”

Kau diam, bingung harus menjawab apa atas amarahnya padamu.

“Aku…tidak sempat”

“Tapi kau baca pesanku kan? Balas pesan kan bisa kurang dari 1 menit, apa kau marah padaku?”

Kau makin tak mengerti mengapa jawabanmu malah berbalik menyerang.

Kau menghela napas, berat dan panjang dari biasanya. Sepertinya dia harus kau beritahu soal rencanamu ini.

“Sinar..,” suaramu sedikit bergetar, kau tahu. Tatapanmu tak berani memandang ke arahnya.

“Maaf, mulai saat ini aku gak bisa…”

Dia diam, menunggu.

Kali ini kau coba menatap wajahnya yang diselimuti kebingungan, “aku gak bisa terus dekat sama kamu, maksudku.. kau tahu kan kita ini kayak gimana

Dia  masih diam, menunggu kau melanjutkan.

“Kau pasti tahu, kita ini berbeda, Sinar… kita cuma bisa sampai sebatas ini, gak akan pernah bisa lebih…”

Selesai sudah, kau sudah memberitahukannya langsung. Dan kali ini, dia menatapmu dengan air mata tergenang di pelupuk matanya, mencengkram bajunya agar ia tak menangis di hadapanmu.

Kau sadar, dia sebenarnya juga sudah sadar akan hal ini. Tentang perbedaan kalian akan suatu keyakinan yang tak mungkin diubah. Hanya saja, baik kau atau dia, belum siap untuk menerima ini, dalam waktu yang dekat.

Seandainya saja aku boleh memutar waktu, aku akan memilih untuk kembali saat aku bertemu denganmu, namun dengan alur yang berbeda, sehingga aku bisa menghapus semua memoriku tentangmu.

Sakit. Rasanya sakit.

Kali ini, kau tak peduli lagi jika ia tiba-tiba menghilang dari hadapanmu atau bahkan tak kembali lagi.

Kau tidak akan sedih lagi jika ia tak membalas pesanmu.

Kau tidak akan kecewa lagi bahkan jika ia tak mengajakmu berbincang layaknya seorang sahabat dekat.

Sungguh kau takkan pernah peduli lagi.

Tapi tidak untuk yang ini.

Tidak untuk menerima kenyataan bahwa kalian ada di sisi yang berbeda. Dua sisi yang takkan pernah bisa bersatu walau dipaksakan.

Dan pada akhirnya aku adalah aku, dan kamu adalah kamu, takkan pernah bisa menjadi kita, takkan pernah menjadi satu.

Bandung, 2014

 

Tagged with: