[Diary Haji] Day 23 : Episode Armina – Jumrah

(Hanya sekedar ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji)  

Note : Mohon maaf bila terdapat banyak typo karena saya mengetik tulisan ini dengan handphone, bukan laptop. Silakan dishare, tapi tolong jangan lupa cantumkan sumbernya yaa terima kasih 🙂 


[Diary Haji] Day 23 : Episode Armina – Jumrah

Mekkah, 5 Oktober 2015

Assalamualaikum

Halo, saya Yunda, 19 tahun, tinggal di Bandung. Alhamdulillah saya dan keluarga saya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, Insya Allah. Doakan kami jadi haji mabrur ya 🙂

Saya baru saja tidur sekitar 2-3 jam ketika terdengar suara ketua rombongan meminta kami semua bangun. Saya liat jam ternyata memang sudah jam 3 pagi, waktunya bersiap melakukan witir dan menunggu shubuh.

20150924_054048
Menunggu Bis yang Akan Menuju Mina

Setelah mengantre wudhu dan cuci muka, saya langsung membereskan baranh bawaan dan segera melakukan shalat witir sekaligus menunggu shubuh. Beres shalat shubuh kami langsung bergegas mengantre bis yang akan membawa kami dari Muzdalifah menuju Mina. Cukup lama juga mengantrenya, mungkin ada sekitar setengah jam sampai akhirnya ada bis kosong yang bisa kami naiki sekitar pukul setengah 6. Berdesak-desakanlah kami masuk bis sampai saya tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri selama perjalanan. Ya gapalalah, cuma sepuluh menit ini, pikir saya.

Ternyata jalanan sangatlah macet karena semua jamaah haji berbondong-bondong mendatangi Mina daro Muzdalifah, sehingga perjalanan yang harusnya hanya sepuluh menit jadi sekitar satu jam. Rasanya saya pengennya turun saja lalu jalan kaki karena keliatannya lebih dekat kalau jalan tapi tentu saja tidak diizonkan supir bis. Saking lamanya, sampai ada yang masuk angin dan muntah-muntah. Akhirnya kami baru bisa sampai di tenda kami di Mina jam setengah 7an.

Belum beres melepas lelah dan menghabiskan sarapan, ketua rombongan sudah mengumumkan bahwa kami harus segera bersiap lagi untuk berangkat ke lempar jumrah jam 8. Kenapa harus buru-buru? Karena memang untuk lmpar jumrah hari pertama ini waktu afdhal yang dicontohkan Rasul adalah saat dhuha.

Setelah bersiap, lengkap dengan memakai sepatu gunung, topi, masker, kacamata hitam, dan sunblock, kami pun berangkat. Berhubung masih ihram, jadi yang laki-laki tidak bisa memakai topi tapi boleh pakai payung. Ya walaupun kami berangkag jamn8 pagi, tapi suhu panas 43 derajat sudah menerpa.

Perjalanan dimulai dengan melewati jalan besar setelah kami keluar kawasan tenda meniju le arah terorowngan jamarat. Ada dua terowongan yang setidaknya kami lewati menuju ke tempat lempar jumrah, dan yang akan kami datangi adalah jamarat lantai 3, dari 4 lantai yang tersedia. Antar terowongan ini  dihubungkan dengan kanopi-kanopi untuk menghalau jamaah haji dari panas.

20150924_095136
Terowongan Menuju Jamarat
20150925_114046
Suasana dalam Terowongan

Mungkin karena ini pertama kalinya, apalagi jarak dari tenda ke jamarat yang cukup jauh sekitar 3 km dan harus jalan kaki, perjalanannya terasa jauh, lama, dan melelahkan. Untungnya ada para askar yang menuemprotkan air layaknya di konser-konser di beberapa titik jadi kami merasa segar kembali.

Begitu sampai di pintu masuk, ketua rombongan saya langsung membawa kami ke jumrah aqabah, tempat kami melempar jumrah hari ini. Sebelumnya kami melewati jumrah ula dan wustha yang baru akan ‘dipakai’ besok. Dan begotu sampai, saya berjalan memutar dulu mencari spot yang agak sepi sebelum menepi dan melempar 7 batu yang sudah saya bawa. Alhamdulillah saya bisa melempar dari bibir dinding, jadi melemparnya jadi lebih mantap haha.

20150924_090230
Pintu Masuk Jamarat
20150924_091105-1
Salah Satu Jamarat

Beres lempar jumrah, kami pun melakukan tahalul alias potong rambut. Untuk yang laki-laki memang disunnahkan digundul, tapi di sini memang dipotong sedikit dulu, baru di tenda nanti dogundul. Dengan tahalul, usai sudahlah rangkaian ‘inti’ dari puncak haji. Kami pun kembali ke tenda dan kali ini jalannya agak pelan-pelan. Oiya di tengah jalan tiba-tiba saya diberi kacang goreng oleh orang Thailand, yaa rejeki memang ga kemana ya.

Tiba di tenda sekitar jam 10-an, beres beristirahat para ibu langsung sibuk membantu suami menggunduli rambutnya, saya sendiri juga bantuin mama untuk menggunduli rambut ayah hehe. Setelah itu saya langsung buru-buru ngantri kamar mandi untuk mandi setelah sekian lama tidak mandi. Bukannya selama ihram ga boleh mandi, boleh kok, cuma berhubung saya bawa baju ganti cuma satu jadi ya… saya putuskan untuk mandi setelah inti puncak haji beres which means sudah tidak berihram lagi. Meskipun airnya hangat alhamdulilllah segerlah habis mandi hehe.

Beres mandi, saya memutuskan untuk istirahat dan di saat inilah salah satu teman ditelpon saudaranya soal tragedi Mina. Kami yang tidak tahu apa-apa mendadak panik dan buru-buru mengakses berita di internet dan kami dari situ kami baru tahu, tragedi Mina telah terjadi beberapa jam yang lalu, bersamaan saat kami juga tengah dalam perjalanan melempar jumrah tadi. Kejadiannya memang terjadi di lokasi yang cukup jauh dari tenda kami, sekitat 1,7 km. Meskipun begitu, suara ambulans dan helikopter terbang rendah yang bolak-balik lewat untuk evakuasi cukup membuat kami was-was untuk lempar jumrah besok.

-to be continued-

Originally posted on my tumblr, arahmadini.tumblr.com