[Diary Haji] Day 23 : Episode Armina – Dan Semesta pun Bertasbih

(Hanya sekedar ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji)  

Note : Mohon maaf bila terdapat banyak typo karena saya mengetik tulisan ini dengan handphone, bukan laptop. Silakan dishare, tapi tolong jangan lupa cantumkan sumbernya yaa terima kasih 🙂 


[Diary Haji] Day 23 : Episode Armina – Dan Semesta pun Bertasbih

Mekkah, 30 September 2015

Assalamualaikum

Halo, saya Yunda, 19 tahun, tinggal di Bandung. Alhamdulillah saya dan keluarga saya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, Insya Allah. Doakan kami jadi haji mabrur ya 🙂

Hari ini adalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah atau Rabu, 23 September 2015, hari yang mempunyai keistimewaan. Keistimewaan apa? Jika orang yang sedang berhaji dan berada di padang Arafah pada hari Arafah, Insya Allah setiap doa yang diucapkan akan dikabulkan oleh Allah (aamiin). Siapa yang nggak mau berdoa kalau kondisinya begitu?

Begitu saya sampai sana pagi-pagi jam 8 setelah naik bis dari Mina, rasanya saya ingin segera memutar waktu agar masuk ke waktu afdhal berdoa di hari ini dan tempat ini, yaitu setelah shalat dhuhur hingga adzan maghrib. Begitu dhuhur ternyata kami harus mendengarkan khutbah wukuf atau khutbah arafah dulu, lalu shalat, dan kami pun bermaaf-maafan (saya dan ibu-ibu nangis-nangis di momen ini samlai tisu 3 pak abis). Beres maaf-maafan dan makan siang dengan menu khas haji, yaitu sukri, suuk (kacang) dan teri, saya pun langsung berdoa berusaha sekhusyu mungkin, sudah tak peduli lagi dengan keadaan tenda yang hanya dari kain biasa, tak peduli dengan cuaca panas yang ada, saya berusaha fokus, meminta agar Allah menjadikan saya hamba-Nya yang shaleh, masuk surga, jadi haji mabrur, dan sederet permohonan lainnya.

Sebenarnya kalau ingin lebih fokus, baiknya memang berdoanya di luar tenda, tapi berhubung panas, dalam tenda juga bisa fokus kok (saya masih bisa nangis meskipun doa di dalam tenda), kalau susah fokus dan takut blank dengan doa yang mau diucapkan, mungkin doanya bisa sambil memejamkan mata atau bikin list doa yang tentunya udah dibikin jauh hari ya. Yang dititipin doa, doa titipan juga bisa dibacakan saat ini.

Yang saya rasakan, saya merasa seperti ‘ngobrol’ berdua dengan Allah, rasanya seperti saya bisa cerita apa yang saya alami, apa yang saya cita-citakan, dan semua-muanya. Mungkin efek dari hari arafah di padang arafah juga kali ya, wallahu ‘alam.

Tak terasa maghrib pun tiba,waktu afdhal berdoa habis. Menjelang matahari terbenam, saya ulang kembali doa saya sambil meminta pada Allah agar mengabulkan permohonan saya dan selalu memberi yang terbaik. Dan begitu sudah malam, waktu pun habis dan entah kenapa saya sedih. Rasanya waktunya kurang, rasanya tadi belum maksimal berdoanya, tapi ya mau bagaimana lagi, yang penting tadi sudah berdoa dengan usaha semaksimal mungkin.

Kami belum bisa shalat maghrib karena yang dicontohkan Rasul itu shalat maghribnya dijama’ takhir dengan isya secara qasar di Muzdalifah. Dan ternyata jadwal rombongan saya ke Muzdalifah itu jam 10 malam. Wah lama juga ya, akhirnya sambil menunggu saya tidur-tiduran sambil bereksperimen membuat teh tarik menggunakan teh lipton, 4 gula sachet, dan 3 coffee creamer, dan rasanya enak lo hehe. Mumpung dikasih fasilitas nih sama panitia haji, kan’ harus dimanfaatkan hehe.

Begitu jam 10 malam, kami pun berkemas dan menuju tempat bis akan menjemput kami. Setelah naik bis, setelah perjalanan sekitar 15-20 menit kami pun sampai di Muzdalifah.

Bayangan saya Muzdalifah itu seperti padang pasir yang luaaaaas dan nyaman, dan ternyata tidak. Padang pasir ini diapit oleh jalan raya yang selalu dipenuhi bis yang menekan klakson, sudah berisik, bau knalpot juga menguar ke mana-mana. Banyaknya toilet juga menambah bau ‘semriwing’ dan ternyata tempat ini sudah dipenuhi oleh banyak orang yang tidak bisa saya hitung. Impian saya tidur di sini sambil melihat bintang dengan tenang pun buyar.

20150924_021033
Suasana di Muzdalifah

Kami langsung bergegas menggelar tikar dan shalat. Beres shalat kami pun mencari batu untuk lempar jumrah di keesokan harinya. Agak susah dicari karena sudah banyak diambil orang, tapi alhamdulillah saya bisa mengumpulkan batu 49 + 10 untuk cadangan. Kenapa 49? Iya, pertama 7 untuk jumrah aqabah saja besok, 21 untuk jumrah ula-wustha-aqabah lusa, 21 untuk jumrah ula-wustha-aqabah untuk besoknya lagi sekaligus menyempurnakan nafar awal.

Bingung ya? Iya, sebelum praktek juga saya bingung kok.

Dan ternyata sudah jam 12 malam, wah kami pun harus segera tidur. Walau agak tidak nyaman karena di udara terbuka dengan berbagai bau semriwing, tidur hanya beralaskan tikar di atas padang pasir yang berdebu, belum lagi tidurnya seperti ikan sarden yang bergelimpangan, ya nggak apa-apa dijalankan saja, zaman Rasul mungkin lebih ‘parah’ dari ini.

-to be continued-

Originally posted on my tumblr, arahmadini.tumblr.com