[Diary Haji] Day 12-13 : Sehari di Masjidil Haram

(Hanya sekedar ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji)

Note : Mohon maaf bila terdapat banyak typo karena saya mengetik tulisan ini dengan handphone, bukan laptop. Silakan dishare, tapi tolong jangan lupa cantumkan sumbernya yaa terima kasih 🙂


[Diary Haji] Day 12-13 : Sehari di Masjidil Haram

Mekkah, 13 September 2015

Assalamualaikum

Halo, saya Yunda, 19 tahun, tinggal di Bandung. Alhamdulillah saya dan keluarga saya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, Insya Allah. Doakan kami jadi haji mabrur ya 🙂

Setelah harap-harap cemas menanti kabar kapan Masjidil Haram dibuka kembali pasca musibah crane kemarin, akhirnya diumumkan juga tanggal 12 subuh, jamaah sudah boleh kembali beribadah di sana.

Untungnya, masih sedikit orang yang tahu info ini, jadi saat saya berangkat naik bis dari hotel, penumpangnya hanya ada saya dan keluarga. Begitu sampai di Masjidil Haram, orang-orang yang berdatangan tidak seramai biasanya.

Saya langsung segera menuju tempat thawaf untuk melaksanakan umroh susulan. Ya Allah, pertama kali saya lihat ka’bah di depan mata, saya tak berhenti mengucap syukur dan tahu-tahu kerudung saya basah karena tangisan. Dan alhamdulillah, lagi-lagi diberi kemudahan, sehingga bisa melaksanakan thawaf di lantai dasar tanpa harus berdesakan. Fyi, saat ini tempat thawafnya terdiri dari tiga tingkat, lantai dasar, ring 2, dan ring 1. Biasanya yang paling penuh adalah lantai dasar karena selain jarak tempuhnya jadi lebih dekat, orang-oramg juga biasanya berlomba untuk mencium hajar aswad (hal ini memang disunnahkan, tapi kalau desak-desakan dan malah jadi mudharat ya ga usah dipaksain), ada juga yang ingin berdoa sambil mengelus-ngelus dinding ka’bah, hijr ismail, pintu ka’bah, dan maqam Ibrahim, padahal hal ini tidak ada tuntunannya.

Bayangan saya dulu, kalau thawaf pasti terasa capek, karena harus keliling 7 putaran tapi ternyata nggak sama sekali. Seolah saat thawaf itu, kita tertarik ke arah ka’bah. Ini terbukti saat thawaf, tadinya saya mulai di bagiam agak luar, biar nanti kalau sudah beres thawaf bisa gampang keluar, eh tapi secara nggak sadar, saya terus masuk ke bagian tengah, bahkan saya hampir bisa menyentuh hijr ismail. Mungkin memang benar ya kalau ada penelitian yang mengatakan ka’bah itu adalah pusat gravitasi bumi, wallahu alam.u

Beres thawaf dan shalat sunnah 2 rakaat di maqam Ibrahim, ternyata sudah masuk waktu tahajud. Di sini kalau masuk waktu tahajud, sekitar pukul 4 waktu Arab, akan ada adzan, dan biasanya orang yang mau thawaf dan sai sudah tidak diperbolehkan lagi, kecuali untuk yang memang sudah setengah jalan. Akhirnya, terpaksa saya harus menunda sai sampai nanti beres shalat shubuh.

Bayangan saya saat mencari tempat shalat, akan lebih tertib seperti waktu kemarin di Masjid Nabawi, tapi ternyata tidak. Shaf perempuan dan laki-laki tidak jelas batasnya di mana. Bahkan sering terlihat dalam satu shaf, ada laki-laki dan perempuam bersebelahan, padahal kan nggak boleh ya.

Terus di tempat alquran juga, kalau di Masjid Nabawi, alqurannya ditata rapi,kalau di sini, di rak itu isinya ada macam-macam selain alquran, ada gelas, roti yang bekas dimakan, sampah, bahkan sandal yang cuma sebelah saja ada di sana.

Belum lagi ternyata lantainya juga cukup kotor. Ya ironi saja sih, ini kan rumah Allah ya, kenapa kok malah begini. Tapi yaa…mungkin bisa jadi ini karena Masjidil Haram masih dalam tahap pembangunan ya, jadi belum terorganisir rapi, siapa tahu.

Saat sedang menunggu adzan shubuh, tiba-tiba saya lihat gerombolan laki-laki melewati shaf yang saya tempati sambil memgangkut sesuatu. Kalau dari jauh, kelihatannya seperti tangga darurat, tapi kok bawanya kaya ditandu ya? Ternyata setelah diteliti lagi, mereka sedang membawa jenazah untuk dishalatkan nantinya. Ya Allah… tidak hanya di Madinah, di Mekkah juga ternyata setiap habis shakat wajib, langsung dilanjut shalat jenazah. Ya kembali saya diingatkan untuk terus mengingat kematian yang kita tak pernah tahu kapannya.

Beres shalat, saya langsung melaksanakan sai. Saya memilih sai di lantai asli, biar kerasa waktu mendaki bukit shafa terus menuruni lembah dan naik lagi ke bukit marwa. Kalau di basement atau lantai 2, treknya kan lurus, jadi kayanya kurang bisa ‘memaknai’ perjuangan Siti Hajar saat dulu berlari-lari memcari air bolak-balik tujuh keliling itu gimana.

Sai beres, tahalul beres, alhamdulillah akhirnya umrohmya beres. Saya langsung keluar melewati pintu Babussalam yang kebetulan dekat dengan terminal bis yang akan saya naiki ke hotel. Dan saya baru sadar, ternyata gerbangnya bagus banget. Dari pintu ini juga keliatan Zamzam Tower walau memang lokasinya bersebrangan.

Sambil menunggu bis, saya iseng-iseng coba beli kebab dan teh tarik yang katanya enak banget. Dan ternyata rasanya memang enak. Kalau dicicip sih, yang bikin enak bangeg rasanya itu di susunya. Wah saya jadi ketagihan nih hehe.

Nah hari ini, saya kira kalau berangkat ke Masjidil Haram di jam yang sama seperti kemarin, saya bisa thawaf sunnah dengan leluasa seperti kemarin. Eh ternyata tidak, sudah banyak oramg datamg, bahkan saat thawaf saya harus berdesak-desakan bahkan mau maju aja susah, padahal saya sudah ambil lantai dasar di lingkaran terluar maksudnya biar agak lowong, tapi eh sama saja. Akhirnya setelah 1 putaran setengah, ayah saya memutuskan untuk menunda thawaf sunnah dulu hari ini, jadi ya di sana hanya tahajud, dan shalat shubuh, lalu pulang.

 

Originally posted on my tumblr, arahmadini.tumblr.com