[Diary Haji] Day 25 : Episode Armina – Dari Sabang Sampai Merauke

(Hanya sekedar ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji)  

Note : Maaf baru bisa nulis lagi, begitu masuk kuliah langsung disambut hujan ujian soalnya hehe. Silakan dishare, tapi tolong jangan lupa cantumkan sumbernya yaa terima kasih 🙂  


Day 25 : Episode Armina – Dari Sabang Sampai Merauke

Bandung, 25 Oktober 2015

Assalamualaikum

Halo, saya Yunda, 19 tahun, tinggal di Bandung. Alhamdulillah saya dan keluarga saya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, Insya Allah. Doakan kami jadi haji mabrur ya 🙂

Hari ini kami akan kembali melaksanakan lempar jumrah. Bedanya kalau kemarin waktu yang disunnahkan itu setelah dhuha kalau sekarang habis dhuhur. Ga kebayang panasnya bakal kaya apa.

Tapi untuk bagian ini, saya ga akan terlalu cerita tentang lempar jumrahnya, melainkan cerita-cerita yang terjadi di tenda Mina.

Seperti judulnya, satu blok tenda kami tidak hanya dihuni oleh jamaah haji dari Bandung saja tapi juga dari kota-kota yang lain, ada yang dari Jawa, Padang, Medan, dan lain-lain. Semuanya ngumpul jadi satu.

Di sini jujur saya benar-benar langsung diuji kesabaran oleh Allah melalui orang-orang ini. Yaa..misalnya saja kita-kita biasanya membuang sampah ya pasti ke tong sampah, sedangkan orang lain asal buang aja, bahkan ada yang karena ga mau tendanya kotor dan bau sampah, jadi sampahnya asal lempar aja ke tenda saya. Gara-gara itu, saya, mama, dan ibu-ibu lain karena udah ga kuat ngeliat sampah berjibun di depan tenda kami, langsung bersih-bersih dan nyiapin kantong trash bag di depan tenda, sekaligus ngasih tulisan ga boleh buang sampah sembarangan. Sengaja kami tidak meminta bantuan bapak-bapak karena kebetuan yang sering buang sampah sembarangan itu bapak-bapak. Alhamdulillah mereka akhirnya sadar diri, jadi buang sampahnya langsung ke trash bag hehehe.

Belum lagi kalau antri ke kamar mandi, Ya Allah…kelakuan ibu-ibu itu macem-macem. Ada yang ga sabaran lah, ada yang ga mau antrilah, ada yang di kamar mandinya lama, dan sebagainya. Saya aja sampai harus cari kamar mandi yang jaraknya agak jauh dari tenda saya yang kebetulan cederung jauh lebih sepi dari kamar mandi yang deket tenda saya. Terus ibu-ibu di tenda saya akhirnya berinisiatif bikin ‘kamar ganti’ di tenda berbekal kain dan tali tambang. Jadi kalau memang cuma mau ganti baju, ga perlu antri ke kamar mandi, langsung disitu aja.

20150925_080816
‘Kamar Ganti’ dalam Tenda

Belum lagi kalau antri wudhu, bisa-bisa satu jam sebelum shalat harus ambil wudhu, kalau nggak ya…ngantrinya bakal lama. Sebenernya kalau semua memang cuma mau ngambil wudhu sih ya nggak masalah, selama-lamanya wudhu ga akan sampe 5 menit kan. Tapi ada yang ternyata dia lagi cuci baju di sana (padahal saya sendiri baju kotornya ga dicuci sama sekali mikirnya ya nanti aja pas balik hotel baru nyuci). Ada juga yang nekat mandi di sana berbekal gayung dan cuma pakai kemben, tahu kemben kan? Dengan santainya dia mengguyur badannya dan membuat kami-kami yang lagi wudhu langsung basah kuyup (alhamdulillah di sana panas jadi baju bisa langsung cepet kering). Saya sempat tegur ibu-ibu yang mandinya pakai kemben itu, ya habis ini kan tempat wudhunya tidak terlalu tertutup jadi masih ada celah terbuka yang bisa dilihat laki-laki yang lewat daerah sana, kan aurat jadinya kalau dia cuma pakai kemben. Dan tebaklah jawabannya apa

“Aduh gimana ya, udah biasa sih kaya gini di desa, kalau ga kaya gini, rasanya ga enak”

Saya sampai nggak habis pikir, bukannya saya nggak menghargai dia yang dari desa, tapi kan aturan tentang harus menjaga aurat sifatnya mutlak, bukan? Saya sampai miris begitu saya keluar tempat wudhu saya mendapati tukang kebersihan yang rata-rata orang Afrika tengah memerhatikan ibu-ibu yang memakai kemben dari celah yang ada dan mereka langsung bersiul dengan nada yang tak enak (tahulah maksud saya gimana). Ya Allah…

Apa bapak-bapaknya aman-aman aja? Well, meskipun jauh lebih tertib dari ibu-ibu, tapi ada saja tingkah bapak-bapak yang aneh-aneh. Saya pernah ga sengaja liat (beneran ga sengaja) bapak-bapak santai saja memakai celana dalam di luar tendanya, mungkin karena antrian kamar mandinya panjang akhirnya dia memutuskan untuk langsung saja ganti, tak peduli akan menjadi bahan tontonan orang.

Mungkin karena kondisi tenda yang tidak begitu nyaman ditambah dengan cuaca panas yang selalu ada di kisaran 43 derajat celcius, tingkat emosi orang menjadi lebih tinggi dari biasanya. Ketua rombongan saya berkali-kali mengingatkan dalam kultum usai shalat, justru ujian haji baru dimulai sekarang, apakah kita bisa lebih sabar apabila berhadapan dengan orang lain, termasuk yaa..pada saat berhadapan dengan berbagai macam karakter orang dari Sabang sampai Merauke ini hehe.

20150926_052921
Mendengarkan Kultum

Wah kok keliatannya ga enak banget ya pas di Mina? Nggak segitunya banget kok, kaya misalnya antri kamar mandi, sebenernya ga sepanjang itu kok, asal emang harus pinter-pinter cari strategi mau ke kamar mandinya kapan dan mau di kamar mandi yang sebelah mana. Terus walaupun memang sebagian besar karakter orangnya seperti yang saya ceritakan tadi, tapi tak sedikit juga yang baik sama kita, bahkan kami jadi mengobrol tentang kehidupan di daerah masing-masing, jadi lumayan kan nambah kenalan baru, Untuk masalah kebersihan asal kitanya ga cuek dan acuh terus inisiatif bersih-bersih sendiri, pasti orang lain yang ngeliat kita bakal malu sendiri dan akhirnya mereka juga ikut menjaga kebersihan tenda. Kalo mau lebih bersih lagi, kita bisa iuran untuk membayar jasa tukang kebersihan (seperti yang dilakuin ibu-ibu di tenda saya) buat bersihin sampah kamar mandi  dan sampah-sampah menggunung lainnya.

-to be continued-

Originally posted on my tumblr, arahmadini.tumblr.com