[Diary Haji] Day 1 : Sehari di Masjid Nabawi

(Hanya sekedar ingin berbagi pengalaman saat menunaikan ibadah haji)

Note : Mohon maaf bila terdapat banyak typo karena saya mengetik tulisan ini dengan handphone, bukan laptop. Silakan dishare, tapi tolong jangan lupa cantumkan sumbernya yaa terima kasih 🙂


[Diary Haji] Day 1 : Sehari di Masjid Nabawi

Madinah, 1 September 2015

Assalamualaikum

Halo, saya Yunda, 19 tahun, tinggal di Bandung. Alhamdulillah saya dan keluarga saya bisa menunaikan ibadah haji tahun ini, Insya Allah. Doakan kami jadi haji mabrur ya 🙂

Atas kehendak Allah-lah akhirmya saya sekeluarga bisa melaksanakan ibadah haji tahun ini. Sama keluarga lagi. Ibu saya selalu berkali-kali bilang “kamu tuh harus banyak syukur sama Allah, kan jarang orangtua haji ngajak anaknya”

Dan atas kehendak Allah juga, akhirnya saya bisa shalat di Masjid Nabawi di Madinah ini. Ketika pertama kali melaksanakan shalat di sana, tepatnya saat shalat shubuh, saya tak bisa menahan tangis saat masuk pelataran Masjid Nabawi yang indah, megah, dan yang pasti masjid ini selalu dipenuhi oleh orang-orang yang mau berlomba-berlomba beribadah di sini dengan melaksanakan shalat fardhu, shalat sunnah, tilawah, dzikir, ziarah, dan lain-lainnya dari beebagai macam negara, suku, ras, budaya, dan bahasa. Entah ada berapa ribu orang yang selalu memenuhi masjid ini saat pelaksanaan shalat. Shaf-shaf baik di dalam masjid maupun di pelataran masjid selalu penuh. Saat adzan berkumandang, semua oramg menghentikan pekerjaannya, termasuk penjual toko yang langsung menutup tokonya sementara dan buru-buru pergi ke masjid. Kota menjadi sepi saat shalat, hampir tidak ada kegiatan lain selain shalat. Masya Allah.

Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Indonesia. Coba kalo di Indonesia, kayaknya jarang sekali kita lihat masjid penuh saat shalat fardhu, rasanya alhamdulillah sekali kalau lihat masjid penuh di indonesia. Terus biasanya berangkat ke masjid juga pasti mepet waktu adzan, ya kan? Kalo saya pribadi sih gitu hehe, bahkan kadang telaf jadi akhirnya masbuk.

Sangat sayang jika segala kesempatan untuk beribadah terus ini tidak kita manfaatkan dengan baik.

Atmosfernya sudah mendukung sekali lo, masih males shalat ke masjid?

Oiya ada hal lain yang berbeda dengan di Indonesia. Di sini hampir setiap shalat fardhu selalu ada shalat jenazah dan yang saya dengar, jenazah yang dishalati itu tidak satu-dua orang, tapi banyak, Ya Allah…

***

Saya dan ibu mau shalat ashar bersama salah seoramg ibu yang satu regu. Kami berencana untuk shalat di dalam masjid, bukan di pelatarannya yang banyak payung besar itu.

Uniknya di sini, kebanyakan orang berangkat ke masjid itu selalu 2-3 jam sebelum adzan berkumandang. Hah ngapain kok lama banget? Ya, yang seperti saya bilang tadi, orang-orang berlomba untuk beribadah di masjid, misalnya begitu sampai di masjid langsung shalat tahyatul masjid, dilanjut dzikir, doa, tilawah, sampai adzan. Luar biasa sekali bukan?

Selain itu, orang-orang juga berangkat beberapa jam sebelum adzan agar bisa shalat di dalam masjid. Masjid Nabawi sendiri luasnya kira-kora sekitar 3 hektar sedangkan pelatarannya 20 hektar. Dan itu selalu penuh! Jadi, telat sedikit berangkat, tidak akan bisa shalat di dalam masjid, karena keburu penuh.

Kenapa orang milih shalat di dalam? Ya sebenernya nggak ada keutamaannya, tapi ya jelas kalau di dalam kan lebih enak, ada AC, di setiap pilar disediakan Quran jadi kalau misalnya tidak bawa Quran sendiri tinggal ambil di situ. Ada air zam-zam juga yang bisa kita ambil sesuai kebutuhan kita. Kalau di pelataran cukup panas walau sudah disediakan kipas angin yang menyemprotkan air (saya ga tahu namanya apa, yang jelas mirip-mirip di Dufan gitu) di setiap pilar. Tersedia air minum juga yang bebas kita ambil, tapi bukan zam-zam, melainkan air sulingan.

Nah, kalau laki-laki, kata ayah saya, berangkat satu.jam sebelum adzan masih bisa dapat tempat di dalam masjid, kalau perempuan? Jangan harap. Kita harus berangkat maksimal 2 jam sebelum adzan, lebih dari itu full.

Tadinya kami bertiga mau mencoba shalat dhuhur di dalam masjid, tapi keburu penuh. Akhirnya kami shalat di pelataran dekat pintu masuk masjid. JBeres shalat dhuhur, kami langsung bergerak masuk ke dalam masjid. Sebelum masuk, para askar (sebutan untuk petugas keamanan) perempuan memeriksa barang bawaan kami karena saat masuk dalam tidak boleh membawa kamera atau handycam. Handphone juga tidak boleh walau waktu itu kami bertiga lolos semua meskipun bawa handphone.

Dan begitu masuk, ternyata di dalam sudah banyak sekali orang, jadi semlat bingung nyari tempat shalatnya gimana. Tapi, alhamdulillah ada askar yang ternyata orang Indonesia membantu kami mencari tempat.

Setelah duduk, di depan saya ternyata ada ibu-ibu dari Cina yang sedang mengaji dan hal ini cukup menyedot perhatian banyak orang, termasuk saya. Untuk saya pribadi, saya takjub saja ternyata di Cina muslimnya sudah banyak dan bahkan mereka juga banyak uang beramgkat haji. Saya sempat ajak ngobrol, tapi sepertinya beliau tidak mengerti bahasa inggris. Saya juga lihat dia meminum minuman teh yang didalamnya diberi semacam ginseng atau rempah-rempah (ya saya juga nggak tahu sebenarnya itu apa karena waktu saya tanya, beliau menjelaskan dengan bahasa cina) dan dari gesturnya, beliau minum teh itu agar tidak pegal-pegal.

20150904_060118
Saya dan Ibu dengan Ibu-Ibu Jamaah Haji Cina

Banyak orang yang minta foto dengan ibu cina ini, termasuk saya, (walau saya minta fotonya di hari keempat sih hehe).

Setelah shalat ashar, kami memutuskan untuk menunggu maghrib di sana dan langsung menjama’ dengan isya karena saat malam nanti remcananya kami mau ke raudhah, jadi itung-itung istirahat dulu lah.

***

Sekitar pukul setengah 9 malam waktu setempat akhirnya kami berangkat dengan satu rombongan menuju raudhah. Oiya fyi aja, raudhah ini adalah tempat yang kata Rasul merupakan salah satu taman Surga yang letaknya di antara mimbar Rasul di Masjid Nabawi. Siapa yang nggak mau coba shalat sunnah dan berdoa di sana?

Di raudhah juga kita bisa sekaligus ziarah ke makam Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Loh kok dalam masjid ada makam? Jadi, sebenarnya Rasul tidak dimakamkan di masjid, tapi di rumah istrinya, Aisyah yang memang rumahnya sangat dekat dengan Masjid Nabawi yang dulunya luasnya hanya 11 × 10 pilar. Karena perluasan, akhirnya, makam ini secara tidak langsung ‘terkungkung’ dalam masjid dan jelas tidak ada seorang pun yang berani memindahkan makam Rasul ke tenpat lain.

Berhubung yang perempuan tidak diizinkan melihat makamnya secara langsung, jadi kami akhirnya hanya diberitahu letak persis makam Rasul, yaitu di bawah kubah hijau di Masjid Nabawi. Sejajar dengan bahu beliau, di sanalah tempat Abu Bakar dimakamkan dan sejajar bahu Abu Bakar, di sanalah Umar dimakamkan.

20150902_002234
Tampak Belakang Makam Rasulullah saw, Abu Bakar, dan Umar

Saya sering dengar perjuangan menuju raudhah sungguh luar biasa dan saya pun mengalaminya sendiri. Saking banyaknya yang ingin ke raudhah, para askar membuat beberapa pos pemberhentian agar kami tertib. Kalau saya tidak salah ingat, kami berhenti sekitar lima kali hingga akhirnya bisa masuk raudhah. Karena jarak dari awal kami masuk hingga pemberhentian terakhir cukup jauh, saya sampai tidak sadae bahwa saat kami tiba di pemberhentian terakhir ternyata jam sudah menunjukkan waktu dua belas malam. Sambil menahan kantuk yang luar biasa saya pun terus berdzikir dan membaca shalawat Nabi sebelum akhirnya para askar mempersilakan kami masuk raudhah.

Dan begitu sampai di raudhah, terlihat jelas perbedaan interior yang menandakan bahwa wilayah ini adalah Masjid Nabawi pertama yang dibangun Rasulullah. Namun, mulailah disitu barisan menjadi tidak tertib, desak-desakan dan dorong-dorongan pun terjadi karena semua orang ingin segera bisa shalat dan berdoa di raudhah yang wilayahnya ditandai oleh karpet hijau (karpet di Masjid Nabawi semuanya merah). Kami yang orang Indonesia, bertubuh kecil, jelas kalah demgan rombongan dari Mali yang tinggi besar, sehingga saya dan ibu saya sempat tertahan di batas antara karpet merah dan hijau dalam waktu yang cukup lama.

Begitu saya lihat ada celah, saya segera masuk ke wilayah karpet hijau dan shalat sunnah, dijaga oleh ibu saya agar tidak terinjak, setelah saya selesai, ganti saya yang menjaga ibu saya shalat.

Eh, ini serius lo, kalo nggak dijaga beneran bisa terinjak-injak! Soalnya, yaa saking pengennya semua oramg shalat dan doa di sana, udah ga peduli lagi di depannya ada yang lagi shalat apa nggak, asal jalan aja. Dan yang saya dengar, waktu saya ke raudhah itu ada satu orang meninggal karena terinjak. Ya Allah…pantas saja ya hampir tiap shalat fardhu ada shalat jenazah ya.

Selesai shalat, entah kenapa tiba-tiba raudhah cukup sepi, sehingga saya dan ibu saya langsung maju ke depan dan berdoa di sana. Saya sudah nggak peduli dengan para askar hang sibuk mengusir kami agar kami bergantian dengan rombongan lain, saya mau berdoa dulu sebentaaaaaaaar saja.

Dan rasanya berdoa di sana itu, layaknya curhat dengan Allah, seolah Allah dekat sekali dengan kita. Saya benar-benar tak bisa menahan tangis saat berdoa, begitu juga dengan ibu-ibu lain. Alhamdulillah, jaramg-jarang ada yang bisa mendapat kesempatan shalat dan berdoa lama di raudhah ini.

Selesai di raudhah, jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari, tapi entah kenapa rasa kantuk tadi menguap sudah. Rasanya kalau ada kesempatan, saya ingin ke raudhah lagi.

***

P.s. Kalo ada info yang salah, tolong dibenarkan ya, terima kasih 🙂

Originally posted on my tumblr, arahmadini.tumblr.com